Konstantinopel atau sekarang disebut
Istanbul atau Asatinah adalah sebuah kota yang terletak di antara dua tepian
teluk Bosporus, kota tersebut merupakan Byzantium
kuno. Kota ini didirikan oleh bangsa Romawi kuno pada abad ke 7 SM. Kaisar Roma
menetapkan sebagai ibukota Imperium Romawi Timur, dan ia menamakan kota
tersebut dengan nama Konstantinopel pada tahun 330. Imperium Romawi sendiri telah
terbagi menjadi dua bagian, yaitu Imperium Romawi Timur dan Imperium Romawi
Barat. (Al-Munyawi edisi ketujuh 2016: 104)
Konstantinopel dibangun di atas kota yang sudah ada sebelumnya, yaitu Byzantium
yang didirikan pada masa ekspansi kolonial Yunani. Ribuan tahun yang lalu oleh
pahlawan legendaris Yunani, yaitu Byzas kota ini dinamai sesuai dengan namanya
yaitu Byzantium. Sejak Kaisar Konsantin memindahkan ibukota Romawi Timur ke
kota tersebut diubah menjadi Konstantinopel yang sering disebut “New Rome”, sebagai tempat aktivitas
dagang terbanyak dengan populasi kurang lebih 500.000 orang. (Felix cetakan ke
11 2017: 13)
Letak Konstantinopel yang terletak di dua tepian teluk Bosporus, kemudian
membentuk sebuah semenanjung sehingga menciptakan bentuk segitiga, sebelah
utara dibatasi oleh Tanduk Emas, di bagian selatan Marmara, dan di barat tembok
Theodosius yang terhampar lebih dari tujuh kilo meter menyeberangi daratan
Trakia. Daerah yang dilindungi tembok Theodosius meliputi tujuh bukit, enam
diantaranya menjulang dari lereng yang sejajar dengan Tanduk Emas dan yang
ketujuh dengan dua puncak disudut barat kota tua. (Freely, 2012: 5)
Menurut
Ali Muhammad Ash Shallabi:
“Kota
Konstantinopel dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus,
Laut Marmara, dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai yang demikian besar,
yang mampu menghalangi masuknya kapal-kapal dari luar. Disamping itu, dari
daratan juga dijaga dengan pagar-pagar sangat kokoh yang terbentang dari Laut
Marmara hingga Tanduk Emas yang diselingi Sungai Likus. Antara dua tembok itu
ada ruang terbuka yang lebarnya mencapai enam puluh meter dan tembok bagian
dalam tingginya mencapai 40 kaki. Di atas pagar itu terdapat menara-menara yang
tingginya 60 kaki. Adapun tembok bagian luar tingginya mecapai 25 kaki dan di
atasnya ada menara-menara yang tersebar di sepanjang tembok itu yang dipenuhi
dengan para tentara.” (Ash-Shallabi 2017: 194)
Konstantinopel dilindungi tembok yang mengelilingi kota dengan sempurna,
baik wilayah laut maupun daratnya, keseluruhan kota ini nampak seperti sebuah
benteng kokoh. Nyali seorang yang ingin menaklukan kota ini pun akan sempit
tatkala dia melihat bagian benteng bagian barat, satu satunya wilayah
Konstantinopel yang berbatasan dengan daratan. Disitu terdapat bangunan
terstruktur tembok dua lapis dengan tiga tingkatan, yang diperkuat dengan parit
besar dan dalam dibagian depannya. Lengkaplah Konstantinopel memiliki gelar
yang lain “ The City With Perfect
Defense”. ( Felix cetakan ke 11 2017: hal 3).
Upaya untuk menaklukan Konstantinopel
dimulai sejak pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan pada serangan Islam yang
pertama tahun 664, namun belum berhasil. Pada awalnya serangan-serangan tersebut
terjadi berulang kali dan selalu gagal. Pada masa Dinasti Uwamiyah juga sudah
dilakukan berbagai usaha untuk menaklukan Konstantinopel. Serangan yang
dilakukan oleh Bani Umayyah, yaitu pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul
Malik pada tahun 717 bukan merupakan serangan terbesar. Usaha selanjutnya untuk
menaklukan Konstantinopel dilakukan pada awal-awal pemerintahan Khilafah
Abbasiyah yang berlangsung sangat intensif melawan Kekaisaran Byzantium. Tetapi
serangan belum dapat sampai ke kota Konstantinopel dan tidak begitu membahayakan,
walaupun serangannya mudah dapat menimbulkan gejolak di dalam negeri Kekaisaran
Byzantium. Serangan yang gencar dilancarkan pada masa Khilafah Harun Ar-Rasyid
pada tahun 806, Sultan khilafah Ustmaniyah Sultan Orhan Bin Ustman pada tahnun
1327, Sultan Beyazid I tahun 1393 sampai Sultan Murad II menggunakan strategi mengepung
kota Konstantinopel untuk menaklukan kota tersebut. Namun demikian
Konstantinopel masih belum dapat ditembus oleh berbagai agresi militer. (
Ash-Shallabi, 2017: 184)
Sultan Mehmet II yang akhirnya
dapat menaklukan Konstantinopel ditakdirkan untuk menjadi sebaik-baik panglima
penakluk Konstantinopel, lahir sepuluh tahun kemudian setelah Sultan Murad ayah
dari Sultan Mehmet sendiri melakukan pengepungan. Sultan Murad pada malam hari menunggu
berita kelahiran anaknya, dia memulai membaca Al Quran dan baru saja
menyelesaikan Surat Al-Fath ayat-ayat yang menjanjikan kemenangan, seorang
petugas membawa berita kelahiran anaknya, kemudian diberi nama Mehmet sebuah
kata yang merupakan Turkinisasi kata Muhammad. (Crowley, 2015: 46)
Tahun 1440 merupakan kondisi yang menandai periode krisis
baru bagi Ustmani. Kekaisaran mendapat ancaman di Anatolia dengan adanya pemberontakan
yang dilakukan oleh salah seorang tuan tanah Turki, bey daerah Karaman.
Disamping itu sementara waktu pasukan lain dari Hungaria mulai bersiap siap di
daerah barat. Sultan Murad terpaksa mengatasi berbagai ancaman dengan gencatan senjata selama sepuluh
tahun dan mengarahkan perhatian ke Anatolia untuk memberantas pemberontakan
bey. Sebelum dia berangkat berjuang sudah dikejutkan oleh usaha kudeta
singgasana. Dia sangat cemas akan ada perang saudara dalam negeri dan
memastikan agar Mehmet dapat memegang kekuasaan sebelum dia meninggal. (Crowley,
2015: 49)
Pada masa pemerintahan sultan Mehmet II
dari Dinasti Ustmaniyah, tembok
Konstantinopel sangat kuat dan dilengkapi dengan armada angkatan lautnya yang
tangguh sehingga hal ini masih menjadi kendala terbesar bagi siapa saja yang mencoba
menaklukannya. Sultan Mehmet II khawatir bahwa Konstantinopel akan kembali
menjadi pemicu persengketaan, perang saudara dan lainya yang tidak diinginkan
oleh kekaisaran Ustmani. Berdasarkan pemikiran tersebut maka penaklukan
Konstantinopel dirasa perlu untuk dilakukan. Penaklukan kata kunci kekaisaran: “Mehmet
mencemaskan kemungkinan keadaan saat itu menjadi pemicu peperangan yang tiada
akhir dengan kekuasaan kristen dimasa yang akan datang”. (Crowley, 2015: 94)
Felix
Y Siauw berpendapat :
“Konstantinopel
sendiri bukanlah kota yang lemah. Posisinya sebagai ibukota Byzantium, pewaris
satu-satunya imperium Romawi menjadikannya memiliki semua teknologi perang dan
kejayaan sistem militer Romawi yang sempat memimpin dunia. wilayah lautnya
sangat luas dan armada lautnya menjadi yang terbaik pada masanya. Tembok
Konstantinopel mempunyai prestasi selama 1.123 tahun menahan 23 serangan yang
dialamatkan kepadanya. Hanya sekali saja tembok bagian lautnya pernah ditembus
oleh pasukan salib 1204, selain itu semua serangan sukses dinetralkan pasukan
pertahananya”. (Felix cetakan 11 2017:
6)
Pada hari Selasa tanggal 29 Mei 1453 tepatnya
dimulai penyerangan umum atas kota Konstantinopel setelah ada perintah kepada seluruh
mujahidin yang telah menggemakan suara mereka dengan bertakbir. Mereka bertolak
menyerang ke arah pagar-pagar benteng Konstantinopel yang dipimpin langsung
oleh Sultan Mehmet II hingga berhasil
menembus dan menguasai beberapa menara. Disamping itu mereka juga berhasil
menumpas sejumlah pasukan Byzantium di pintu Aderna. Ketika Kaisar Konstantin
melihat panji-panji Ustmani berkibar di atas menara–menara bagian selatan kota Konstantinopel,
ia yakin bahwa sudah tidak ada gunanya lagi bertahan. Ia melepaskan pakaiannya
agar tidak dikenali, kemudian ia turun dari kudanya untuk bertempur dan
akhirnya ia terbunuh di medan perang. Tersebarnya berita kematian Kaisar sangat
berpengaruh besar terhadap semangat para mujahidin Ustmani. Namun sebaliknya
semangat dari pasukan Kaisar Konstantin semakin melemah. Pasukan Ustmani
berhasil memasuki kota dari berbagai titik, akhirnya pasukan pelindung kaisar melarikan
diri setelah pemimpin mereka tidak ada lagi. Perjuangan bangsa Turki telah
berhasil menguasai kota Konstantinopel. (Al-Munyawi, 2016: 147-151)
Kota Romawi akhirnya ditaklukan oleh Sultan Mehmet II setelah melewati proses
pengepungan selama hampir dua bulan. Jatuhnya Kota Konstantinopel tidak lepas
dari kepiawaian sang Sultan Mehmet II dalam strategi perangnya dan usaha-usaha
yang dilakukannya selama penaklukan Konstantinopel. (Al-Munyawi, 2016: 155)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar