Kamis, 12 Juli 2018

Sejarah Singkat Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih


Konstantinopel atau sekarang disebut Istanbul atau Asatinah adalah sebuah kota yang terletak di antara dua tepian teluk Bosporus, kota tersebut  merupakan Byzantium kuno. Kota ini didirikan oleh bangsa Romawi kuno pada abad ke 7 SM. Kaisar Roma menetapkan sebagai ibukota Imperium Romawi Timur, dan ia menamakan kota tersebut dengan nama Konstantinopel pada tahun 330. Imperium Romawi sendiri telah terbagi menjadi dua bagian, yaitu Imperium Romawi Timur dan Imperium Romawi Barat. (Al-Munyawi edisi ketujuh 2016: 104)
       Konstantinopel dibangun di atas kota yang sudah ada sebelumnya, yaitu Byzantium yang didirikan pada masa ekspansi kolonial Yunani. Ribuan tahun yang lalu oleh pahlawan legendaris Yunani, yaitu Byzas kota ini dinamai sesuai dengan namanya yaitu Byzantium. Sejak Kaisar Konsantin memindahkan ibukota Romawi Timur ke kota tersebut diubah menjadi Konstantinopel yang sering disebut “New Rome”, sebagai tempat aktivitas dagang terbanyak dengan populasi kurang lebih 500.000 orang. (Felix cetakan ke 11 2017: 13)
       Letak Konstantinopel yang terletak di dua tepian teluk Bosporus, kemudian membentuk sebuah semenanjung sehingga menciptakan bentuk segitiga, sebelah utara dibatasi oleh Tanduk Emas, di bagian selatan Marmara, dan di barat tembok Theodosius yang terhampar lebih dari tujuh kilo meter menyeberangi daratan Trakia. Daerah yang dilindungi tembok Theodosius meliputi tujuh bukit, enam diantaranya menjulang dari lereng yang sejajar dengan Tanduk Emas dan yang ketujuh dengan dua puncak disudut barat kota tua. (Freely, 2012: 5)
Menurut Ali Muhammad Ash Shallabi:
“Kota Konstantinopel dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmara, dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai yang demikian besar, yang mampu menghalangi masuknya kapal-kapal dari luar. Disamping itu, dari daratan juga dijaga dengan pagar-pagar sangat kokoh yang terbentang dari Laut Marmara hingga Tanduk Emas yang diselingi Sungai Likus. Antara dua tembok itu ada ruang terbuka yang lebarnya mencapai enam puluh meter dan tembok bagian dalam tingginya mencapai 40 kaki. Di atas pagar itu terdapat menara-menara yang tingginya 60 kaki. Adapun tembok bagian luar tingginya mecapai 25 kaki dan di atasnya ada menara-menara yang tersebar di sepanjang tembok itu yang dipenuhi dengan para tentara.” (Ash-Shallabi 2017: 194)
           
       Konstantinopel dilindungi tembok yang mengelilingi kota dengan sempurna, baik wilayah laut maupun daratnya, keseluruhan kota ini nampak seperti sebuah benteng kokoh. Nyali seorang yang ingin menaklukan kota ini pun akan sempit tatkala dia melihat bagian benteng bagian barat, satu satunya wilayah Konstantinopel yang berbatasan dengan daratan. Disitu terdapat bangunan terstruktur tembok dua lapis dengan tiga tingkatan, yang diperkuat dengan parit besar dan dalam dibagian depannya. Lengkaplah Konstantinopel memiliki gelar yang lain “ The City With Perfect Defense”. ( Felix cetakan ke 11 2017: hal 3).
Upaya untuk menaklukan Konstantinopel dimulai sejak pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan pada serangan Islam yang pertama tahun 664, namun belum berhasil. Pada awalnya serangan-serangan tersebut terjadi berulang kali dan selalu gagal. Pada masa Dinasti Uwamiyah juga sudah dilakukan berbagai usaha untuk menaklukan Konstantinopel. Serangan yang dilakukan oleh Bani Umayyah, yaitu pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik pada tahun 717 bukan merupakan serangan terbesar. Usaha selanjutnya untuk menaklukan Konstantinopel dilakukan pada awal-awal pemerintahan Khilafah Abbasiyah yang berlangsung sangat intensif melawan Kekaisaran Byzantium. Tetapi serangan belum dapat sampai ke kota Konstantinopel dan tidak begitu membahayakan, walaupun serangannya mudah dapat menimbulkan gejolak di dalam negeri Kekaisaran Byzantium. Serangan yang gencar dilancarkan pada masa Khilafah Harun Ar-Rasyid pada tahun 806, Sultan khilafah Ustmaniyah Sultan Orhan Bin Ustman pada tahnun 1327, Sultan Beyazid I tahun 1393 sampai Sultan Murad II menggunakan strategi mengepung kota Konstantinopel untuk menaklukan kota tersebut. Namun demikian Konstantinopel masih belum dapat ditembus oleh berbagai agresi militer. ( Ash-Shallabi, 2017: 184)
            Sultan Mehmet II yang akhirnya dapat menaklukan Konstantinopel ditakdirkan untuk menjadi sebaik-baik panglima penakluk Konstantinopel, lahir sepuluh tahun kemudian setelah Sultan Murad ayah dari Sultan Mehmet sendiri melakukan pengepungan. Sultan Murad pada malam hari menunggu berita kelahiran anaknya, dia memulai membaca Al Quran dan baru saja menyelesaikan Surat Al-Fath ayat-ayat yang menjanjikan kemenangan, seorang petugas membawa berita kelahiran anaknya, kemudian diberi nama Mehmet sebuah kata yang merupakan Turkinisasi kata Muhammad. (Crowley, 2015: 46)
            Tahun 1440  merupakan kondisi yang menandai periode krisis baru bagi Ustmani. Kekaisaran mendapat ancaman di Anatolia dengan adanya pemberontakan yang dilakukan oleh salah seorang tuan tanah Turki, bey daerah Karaman. Disamping itu sementara waktu pasukan lain dari Hungaria mulai bersiap siap di daerah barat. Sultan Murad terpaksa mengatasi berbagai  ancaman dengan gencatan senjata selama sepuluh tahun dan mengarahkan perhatian ke Anatolia untuk memberantas pemberontakan bey. Sebelum dia berangkat berjuang sudah dikejutkan oleh usaha kudeta singgasana. Dia sangat cemas akan ada perang saudara dalam negeri dan memastikan agar Mehmet dapat memegang kekuasaan sebelum dia meninggal. (Crowley, 2015: 49)
Pada masa pemerintahan sultan Mehmet II dari Dinasti Ustmaniyah,  tembok Konstantinopel sangat kuat dan dilengkapi dengan armada angkatan lautnya yang tangguh sehingga hal ini masih menjadi kendala terbesar bagi siapa saja yang mencoba menaklukannya. Sultan Mehmet II khawatir bahwa Konstantinopel akan kembali menjadi pemicu persengketaan, perang saudara dan lainya yang tidak diinginkan oleh kekaisaran Ustmani. Berdasarkan pemikiran tersebut maka penaklukan Konstantinopel dirasa perlu untuk dilakukan. Penaklukan kata kunci kekaisaran: “Mehmet mencemaskan kemungkinan keadaan saat itu menjadi pemicu peperangan yang tiada akhir dengan kekuasaan kristen dimasa yang akan datang”. (Crowley, 2015: 94)
Felix Y Siauw berpendapat :
“Konstantinopel sendiri bukanlah kota yang lemah. Posisinya sebagai ibukota Byzantium, pewaris satu-satunya imperium Romawi menjadikannya memiliki semua teknologi perang dan kejayaan sistem militer Romawi yang sempat memimpin dunia. wilayah lautnya sangat luas dan armada lautnya menjadi yang terbaik pada masanya. Tembok Konstantinopel mempunyai prestasi selama 1.123 tahun menahan 23 serangan yang dialamatkan kepadanya. Hanya sekali saja tembok bagian lautnya pernah ditembus oleh pasukan salib 1204, selain itu semua serangan sukses dinetralkan pasukan pertahananya”.  (Felix cetakan 11 2017: 6)
 Pada hari Selasa tanggal 29 Mei 1453 tepatnya dimulai penyerangan umum atas kota Konstantinopel setelah ada perintah kepada seluruh mujahidin yang telah menggemakan suara mereka dengan bertakbir. Mereka bertolak menyerang ke arah pagar-pagar benteng Konstantinopel yang dipimpin langsung oleh Sultan Mehmet II  hingga berhasil menembus dan menguasai beberapa menara. Disamping itu mereka juga berhasil menumpas sejumlah pasukan Byzantium di pintu Aderna. Ketika Kaisar Konstantin melihat panji-panji Ustmani berkibar di atas menara–menara bagian selatan kota Konstantinopel, ia yakin bahwa sudah tidak ada gunanya lagi bertahan. Ia melepaskan pakaiannya agar tidak dikenali, kemudian ia turun dari kudanya untuk bertempur dan akhirnya ia terbunuh di medan perang. Tersebarnya berita kematian Kaisar sangat berpengaruh besar terhadap semangat para mujahidin Ustmani. Namun sebaliknya semangat dari pasukan Kaisar Konstantin semakin melemah. Pasukan Ustmani berhasil memasuki kota dari berbagai titik, akhirnya pasukan pelindung kaisar melarikan diri setelah pemimpin mereka tidak ada lagi. Perjuangan bangsa Turki telah berhasil menguasai kota Konstantinopel. (Al-Munyawi, 2016: 147-151)
       Kota Romawi akhirnya ditaklukan oleh Sultan Mehmet II setelah melewati proses pengepungan selama hampir dua bulan. Jatuhnya Kota Konstantinopel tidak lepas dari kepiawaian sang Sultan Mehmet II dalam strategi perangnya dan usaha-usaha yang dilakukannya selama penaklukan Konstantinopel. (Al-Munyawi, 2016: 155)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar