(PERANG PADRI)
Latar Belakang Terjadinya Perlawanan
Perang
Padri adalah peperangan yang berlangsung di daerah Minangkabau (Sumatra Barat)
dan sekitarnya terutama di kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga1838.
Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
Istilah
Padri berasal dari kata Pidari atau Padre, yang berarti ulama yang selalu
berpakaian putih. Para pengikut gerakan padri biasanya memakai jubah putih.
Sedangkan kaum adat memakai pakaian hitam. Selain itu juga ada yang berpendapat
bahwa disebut gerakan Padri karena para pemimpin gerakan ini adalah orang
Padari, yaitu orang-orang yang berasal dari Pedir yang telah naik haji ke Mekah
melalui pelabuhan Aceh yaitu Pedir.
Adapun
tujuan dari gerakan Padri adalah memperbaiki masyarakat Minangkabau dan
mengembalikan mereka agar sesuai dengan ajaran Islam yang murni yang
berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Gerakan ini mendapat sambutan baik di kalangan
ulama, tetapi mendapat pertentangan dari kaum adat. (Mawarti, Djoened PNN,
1984:169).
Perang
Padri dilatarbelakangi oleh kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah sekitar tahun 1803, yaitu Haji
Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang yang ingin memperbaiki syariat
Islam yang belum sempurna dijalankan oleh masyarakat Minangkabau. Mengetahui hal tersebut, Tuanku Nan Renceh sangat tertarik lalu ikut mendukung
keinginan ketiga orang Haji tersebut bersama dengan ulama lain di Minangkabau
yang tergabung dalam Harimau Nan Salapan.
Harimau
Nan Salapan kemudian meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan
Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan
beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam beberapa
perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. Seiring
itu beberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung
bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Pagaruyung dan
pecahlah peperangan di Koto
Tangah.
Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan
melarikan diri dari ibu kota kerajaan. Dari catatan Raffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung pada tahun 1818, menyebutkan bahwa
ia hanya mendapati sisa-sisa Istana Kerajaan Pagaruyung yang sudah terbakar.
Tokoh / Pemimpin Perang Padri
Adanya perselisihan
antara kaum adat dan kaum padri sebagai akibat dari usaha yang dilakukan kaum
padri untuk memurnikan ajaran Islam dengan menghapus adat kebiasaan yang tidak
sesuai dengan ajaran islam.
Campur tangan belanda
dengan membantu kaum adat .Pertempuran pertama terjadi dikota lawas kemudian
meluas ke daerah daerah lain. Sehingga muncul pemimpin
pemimpin yang mendukung gerakan kaum padri seperti Datuk
Bandaro, Datuk Malim Basa (Imam Bonjol), Tuanku pasaman dan Tuanku Nan Gapuk.
Proses Perlawanan
Musuh kaum Padri selain kaum
adat adalah Belanda. Perlawanan dimulai tahun1821 Kaum Adat yang
mulai terdesak
dengan serangan Kaum Padri, meminta bantuan kepada Belanda. Kaum Padri memulai serbuan ke
berbagai pos Belanda dan pencegatan terhadap patrol Belanda. Pasukan Padri
bersenjatakan senjata tradisional, sedangkan musuhnya menggunakan meriam dan
jenis senjata lainnya yang sudah dibilang cukup modern. Pertempuran banyak
menimbulkan korban kedua belah pihak. Pasukan Belanda mendirikan benteng
pertahanan di Batu sangkar diberi nama Fort Van Der Capellen.
Benteng
pertahanan kaum Padri dibangun di berbagai tempat, antara lain Agam dan Bonjol
yang diperkuat dengan pasukan yang banyak. Perlawanan yang dilakukan oleh Kaum
Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya.
Oleh sebab itu Belanda melalui wakilnya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri
yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan
mengadakan "Perjanjian Masang" pada tanggal 15 November 1825 dan
diingkari oleh Belanda sendiri. Pada April 1824 Raaf meninggal digantikan oleh
Kolonel De Stuers. Dia membangun Benteng Fort De Kock,di Bukit Tinggi. Hal ini
dilakukan karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia-Belanda juga kehabisan dana
dalam menghadapi peperangan lain di Jawa yaitu Perang Diponegoro.
Tahun
1829 daerah kekuasaan kaum Padri telah meluas sampai ke Batak Mandailing,
Tapanuli. Di Natal. Tapanuli Baginda Marah Husein minta bantuan kepada Kaum
Padri mengusir Gubernur Belanda di sana. Maka setelah selesai perang
Diponegoro, Natal di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik dapat mempertahankan
serangan Belanda di sana. Tahun 1829 De Stuers digantikan oleh Letnan Kolonel
Elout, yang datang di Padang Maret 1931. Dengan bantuan Mayor Michiels, Natal
dapat direbut, sehingga Tuanku Nan Cerdik ke Bonjol. Banyak kampung yang
dapat direbut Belanda. Tahun 1932 datang bantuan dari Jawa, di bawah Sentot
Prawirodirjo. Dengan cepat Lintau, Bukit, Komang, Bonjol, dan hampir seluruh
daerah Agam dapat dikuasai oleh Belanda. Melihat ini baik Kaum Adat dan Kaum
Padri bersatulah mereka bersama-sama menghadapi penjajah Belanda.
Akhir Perlawanan
Setelah
daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda, serangan ditujukan
langsung ke benteng Bonjol. Membaca situasi yang gawat ini, Tuanku Imam Bonjol
menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan, bahwa perdamaian ini
disertai dengan penyerahan. Tetapi Imam Bonjol berpendirian lain. Perundingan
perdamaian ini adalah siasat mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan
lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan dalam benteng
dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui kekuatan musuh di luar
benteng. Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran
pada tanggal 12 Agustus 1837.
Belanda
memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol,yang didahului
dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak
menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu lawan satu
tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.Pasukan
Padri terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan
Belandamenyebabkan Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah pada
tanggal 25 Oktober 1937. Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak
berarti perlawanan kaum Padri telah dapat dipadamkan. Perlawanan masih
terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusi pada tahun 1838.
Setelah itu berakhirlah perang Padri dan daerah Minangkabau dikuasai oleh
Belanda.
Kesimpulan
Akhirnya pada tahun 1837 Benteng Bonjol dapat
dikuasai Belanda, dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditangkap, tetapi
peperangan ini masih berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir Kaum Padri, di
Dalu-Dalu , yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh pada 28
Desember 1838. Hancurnya benteng tersebut memaksa Tuanku Tambusai
mundur, bersama sisa-sisa pengikutnya pindah kenegeri sembilan semenanjung
malaya dan akhirnya peperangan ini dianggap selesai karena sudah tidak ada
perlawanan yang berarti
DAFTAR PUSTAKA
http://iskandarberkasta-sudra.blogspot.com/2011/02/kedatangan-belanda-ke-indonesia.html
Notosusanto, Nugroho:Poesponegoro Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Notosusanto, Nugroho:Poesponegoro Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar