Dalam era globalisasi saat ini peran pendidik sangatlah penting dimana dalam mewujudkan semua cita-cita bangsa untuk menjadi bangsa yang beradab dan memiliki integritas. Seorang pendidik adalah benteng terakhir untuk mewujudkan itu semua di mana kelak para generasi muda menjadi pemikir-pemikir yang hebat. Seorang pendidikpun tak akan berhasil jika tak ada dukungan sepenuhnya dari pemerintah.
Contoh : Jika seorang pendidik berhasil memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik dalam berbagai aspek seperti keterampilan dan kognitif . untuk menyalurkan itu semua tentu pemeerintah harus memberikan banyak peluang bagi masa depan seorang anak.
Contoh buruknya pemerintah tentang keberhasilan seseorang : ketika seorang anak memiliki kognitif di atas rata-rata tetapi pemerintah hanya sebatas tahu saja tapi tidak menyikapi lebih seperti fasilitas yang kurang mewadahi. contoh kongkritnya seperti anak bangsa yang banyak berhasil menciptakan sesuatu tapi tidak dihargai di negara ini justru berhasil di negara orang lain. (Contoh kongkrit orang-orangnya sengaja tidak saya sebut karena banyaknya silahkan google sendiri)
disampin itu seorang pendidikjangan hanya memberikan Transfer Of Knowledge kepada seorang anak tapi berilah pembelajaran MORAL yang sangat penting. kenapa? karena kalau hanya sekedar Transfer Of Knowledge google lebih pintar dari semua calon pendidik. kenapa pendidik harus menerapkan pembelajaran MORAL dalam pembelajaran? kembali lagi di zaman globalisasai ini peserta didik banyak yang tidak memilik moral seperti tahun 90' an di mana seorang peserta didik saat ini tidak takut lagi dengan seorang guru, banyaknya pergaulan yang salah tentu itu akan merusak generasi yang akan depan. Di mana MORAL lah yang akan merubah sifat anak didik itu akan lebih baik. satu lagi di mana pendidik tak seharusnya memaksakan peserta didik untuk menuntut apa yang seorang pendidik sukai, tapi berilah tempat dan fasilitas buat peserta didik dalam mewujudkan apa yang dia senangi saat di bangku sekolah .
Selasa, 24 Juli 2018
Strategi Pembelajaran Seorang Pendidik yang Efeketif
A.
Pengertian
Pengelolaan Kelas
Pengelolaan
kelas adalah keterampilan guru untuk meciptakan dan memelihara kondisi belajar
yang optimal dan mengembalikaannya bila terjadi gangguan dalam proses
belajar-mengajar. Dengan kata lain, pengelolaan kelas adalah kegiatan-kegiatan
untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya
proses belajar-mengajar. Misalnya, penghentian tingkah laku peserta didik yang
mnenyelewengkan perhatian kelas, pemberian hadiah bagi ketepatan waktu
penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Pengelolaan kealas dimaksudkan untuk
meciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik sehingga
tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien. Ketika kelas
terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi
proses belajar menngajar
Hadari Nawawi (1990) memandnag kelas dari
dua sudut, yaitu
1. Kelas
dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat
sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam
pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar mneunjuk
pengelompokkan siswa menurut tingkat perkembangannya yang antara lain
didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing
2. Kelas
dalam arti luas, suatu masyarakat kecil yang meerupakan bagian dari masyarakat
sekolah, yang sebagai satu kesatuan organisasi menjadi unit kerja yang secara
dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk
mencapai suatu tujuan
B.
Tujuan
Pengelolaan Kelas
Tujuan kelas pada hakikatnya telah terkandung
pada tujuan pendidikan dan secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah
penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam
lingkungan social, emosional dan intelektual dalam kelas sehingga peserta didik
terhindar dari permasalahan seperti siswa mengantuk, enggan mengerjakan tugas,
terlambat masuk kelas, mengajukan pertanyaan aneh dan lain sebagainya
(Soetipo,2005). Sebagai indicator dari sebuah kelas yang tertib menurut
Suharsimi Arikunto adalah apabila
1. Setiap
siswa harus bekerja, artinya tidak ada siswa yang terhenti karena tidak tahu
ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan
kepadanya
2. Setiap
siswa terus melakukan pekerjaan tanpa
membuang waktu, artinya setiap siswa akan bekerja secepatnya supaya lekas
menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Apabila ada siswa yang walaupun
tahu dan dapat melaksanakan tugasnya, tetapi mengerjakanya kurang bergairah dan
mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut dikatakan tidak tertinb.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan,
meciptakan dan memelihara kondisi yang optimal didalam kelas sehingga siswa
dapat belajar dan bekerja dengan baik.
C.
Berbagai
Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
Sebagai pekerja professional seorannng guru
harus medalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas, dan
dengan pendekatan yangdipilihnya diharapkan menjadi alternative terbaik untuk
pemecahan masalahnya.
1. Pendekatan
Perubahan Tingkah Laku (Behavior Modification Aproach)
2. Pendekatan
Suasana Emosi dan Hubungan Sosial (Socio-Emotional-Climate Approach)
3. Pendekatan
Proses Kelompok (Group-Proceses Approach)
4. Pendekatan
Electis (Electic-approach)
D.
Prinsip-prinsip
Pengelolaan Kelas
Terkait dengan pengelolaan kelas banyak
factor-faktor yang mempengaruhi yang pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua
yaitu, factor ekstern dan intern siswa. Faktor intern siswa berhubungan dengan
masalah emosi, pikiran, dan peerilaku. Factor ekstern siswa terkait dengan
masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa , pengelompokan siswa,
jumlah siswa di kelas, dan sebagainya. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk
mengetahui dan menguasi prinsip-prinsip pengelolaan kelas. Berikut
prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dimaksud
1. Hangat
dan Antusias
2. Bervariasi
3. Keluwesan
4. Tantangan
5. Penekanan
pada hal-hal yang positif
6. Penanaman
displin diri
Senin, 16 Juli 2018
SEJARAH PERANG PADRI
(PERANG PADRI)
Latar Belakang Terjadinya Perlawanan
Perang
Padri adalah peperangan yang berlangsung di daerah Minangkabau (Sumatra Barat)
dan sekitarnya terutama di kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga1838.
Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
Istilah
Padri berasal dari kata Pidari atau Padre, yang berarti ulama yang selalu
berpakaian putih. Para pengikut gerakan padri biasanya memakai jubah putih.
Sedangkan kaum adat memakai pakaian hitam. Selain itu juga ada yang berpendapat
bahwa disebut gerakan Padri karena para pemimpin gerakan ini adalah orang
Padari, yaitu orang-orang yang berasal dari Pedir yang telah naik haji ke Mekah
melalui pelabuhan Aceh yaitu Pedir.
Adapun
tujuan dari gerakan Padri adalah memperbaiki masyarakat Minangkabau dan
mengembalikan mereka agar sesuai dengan ajaran Islam yang murni yang
berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Gerakan ini mendapat sambutan baik di kalangan
ulama, tetapi mendapat pertentangan dari kaum adat. (Mawarti, Djoened PNN,
1984:169).
Perang
Padri dilatarbelakangi oleh kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah sekitar tahun 1803, yaitu Haji
Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang yang ingin memperbaiki syariat
Islam yang belum sempurna dijalankan oleh masyarakat Minangkabau. Mengetahui hal tersebut, Tuanku Nan Renceh sangat tertarik lalu ikut mendukung
keinginan ketiga orang Haji tersebut bersama dengan ulama lain di Minangkabau
yang tergabung dalam Harimau Nan Salapan.
Harimau
Nan Salapan kemudian meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan
Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan
beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam beberapa
perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. Seiring
itu beberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung
bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Pagaruyung dan
pecahlah peperangan di Koto
Tangah.
Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan
melarikan diri dari ibu kota kerajaan. Dari catatan Raffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung pada tahun 1818, menyebutkan bahwa
ia hanya mendapati sisa-sisa Istana Kerajaan Pagaruyung yang sudah terbakar.
Tokoh / Pemimpin Perang Padri
Adanya perselisihan
antara kaum adat dan kaum padri sebagai akibat dari usaha yang dilakukan kaum
padri untuk memurnikan ajaran Islam dengan menghapus adat kebiasaan yang tidak
sesuai dengan ajaran islam.
Campur tangan belanda
dengan membantu kaum adat .Pertempuran pertama terjadi dikota lawas kemudian
meluas ke daerah daerah lain. Sehingga muncul pemimpin
pemimpin yang mendukung gerakan kaum padri seperti Datuk
Bandaro, Datuk Malim Basa (Imam Bonjol), Tuanku pasaman dan Tuanku Nan Gapuk.
Proses Perlawanan
Musuh kaum Padri selain kaum
adat adalah Belanda. Perlawanan dimulai tahun1821 Kaum Adat yang
mulai terdesak
dengan serangan Kaum Padri, meminta bantuan kepada Belanda. Kaum Padri memulai serbuan ke
berbagai pos Belanda dan pencegatan terhadap patrol Belanda. Pasukan Padri
bersenjatakan senjata tradisional, sedangkan musuhnya menggunakan meriam dan
jenis senjata lainnya yang sudah dibilang cukup modern. Pertempuran banyak
menimbulkan korban kedua belah pihak. Pasukan Belanda mendirikan benteng
pertahanan di Batu sangkar diberi nama Fort Van Der Capellen.
Benteng
pertahanan kaum Padri dibangun di berbagai tempat, antara lain Agam dan Bonjol
yang diperkuat dengan pasukan yang banyak. Perlawanan yang dilakukan oleh Kaum
Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya.
Oleh sebab itu Belanda melalui wakilnya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri
yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan
mengadakan "Perjanjian Masang" pada tanggal 15 November 1825 dan
diingkari oleh Belanda sendiri. Pada April 1824 Raaf meninggal digantikan oleh
Kolonel De Stuers. Dia membangun Benteng Fort De Kock,di Bukit Tinggi. Hal ini
dilakukan karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia-Belanda juga kehabisan dana
dalam menghadapi peperangan lain di Jawa yaitu Perang Diponegoro.
Tahun
1829 daerah kekuasaan kaum Padri telah meluas sampai ke Batak Mandailing,
Tapanuli. Di Natal. Tapanuli Baginda Marah Husein minta bantuan kepada Kaum
Padri mengusir Gubernur Belanda di sana. Maka setelah selesai perang
Diponegoro, Natal di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik dapat mempertahankan
serangan Belanda di sana. Tahun 1829 De Stuers digantikan oleh Letnan Kolonel
Elout, yang datang di Padang Maret 1931. Dengan bantuan Mayor Michiels, Natal
dapat direbut, sehingga Tuanku Nan Cerdik ke Bonjol. Banyak kampung yang
dapat direbut Belanda. Tahun 1932 datang bantuan dari Jawa, di bawah Sentot
Prawirodirjo. Dengan cepat Lintau, Bukit, Komang, Bonjol, dan hampir seluruh
daerah Agam dapat dikuasai oleh Belanda. Melihat ini baik Kaum Adat dan Kaum
Padri bersatulah mereka bersama-sama menghadapi penjajah Belanda.
Akhir Perlawanan
Setelah
daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda, serangan ditujukan
langsung ke benteng Bonjol. Membaca situasi yang gawat ini, Tuanku Imam Bonjol
menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan, bahwa perdamaian ini
disertai dengan penyerahan. Tetapi Imam Bonjol berpendirian lain. Perundingan
perdamaian ini adalah siasat mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan
lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan dalam benteng
dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui kekuatan musuh di luar
benteng. Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran
pada tanggal 12 Agustus 1837.
Belanda
memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol,yang didahului
dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak
menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu lawan satu
tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.Pasukan
Padri terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan
Belandamenyebabkan Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah pada
tanggal 25 Oktober 1937. Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak
berarti perlawanan kaum Padri telah dapat dipadamkan. Perlawanan masih
terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusi pada tahun 1838.
Setelah itu berakhirlah perang Padri dan daerah Minangkabau dikuasai oleh
Belanda.
Kesimpulan
Akhirnya pada tahun 1837 Benteng Bonjol dapat
dikuasai Belanda, dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditangkap, tetapi
peperangan ini masih berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir Kaum Padri, di
Dalu-Dalu , yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh pada 28
Desember 1838. Hancurnya benteng tersebut memaksa Tuanku Tambusai
mundur, bersama sisa-sisa pengikutnya pindah kenegeri sembilan semenanjung
malaya dan akhirnya peperangan ini dianggap selesai karena sudah tidak ada
perlawanan yang berarti
DAFTAR PUSTAKA
http://iskandarberkasta-sudra.blogspot.com/2011/02/kedatangan-belanda-ke-indonesia.html
Notosusanto, Nugroho:Poesponegoro Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Notosusanto, Nugroho:Poesponegoro Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Definisi dan tipe-tipe sejarah lokal
Sejarah Lokal
Indonesia
adalah negara yang bersejarah.Banyak sekali tragedi atau peristiwa yang terjadi
di negeri Indonesia.Mulai dari masa prasejarah, masa kerajaan, masa kolonial
hangga masa kemerdekaan mewarnai sejarah panjang negeri kita ini.
Sebagai
warga Indonesia, sudah sepantasnya bagi kita untuk mengenali sejarah- sejarah
yang telah terjadi di negeri kita ini. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat
menjadikan sejarah itu sebagai sebuah refleksi untuk melangkah ke depan
menggapai cita-cita.
Istilah sejarah lokal
di Indonesia kerap digunakan pula sebagai sejarah daerah, sedangkan di Barat
disamping dikenal istilah local
history juga community
history, atauneighborhood
history, maupun nearby
history.
Definisi Sejarah Lokal
1.Kisah masa lampau
dari kelompok masyarakat tertentu yang berada pada daerah geografis yang
terbatas.
2.Suatu peristiwa yang
terjadi dalam lokasi yang kecil, baik pada desa dan kota tertentu.
3.Studi tentang
kehidupan masyarakat atau khususnya komunitas dari suatu lingkugan sekitar (neighborhood)
tertentu dalam dinamika perkembangannya dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
4.Suatu cabang studi
sejarah yang terutama menekankan pengkajian peristiwa sejarah dilingkungan
suatu lokalitas tertentu.
5.Sejarah yang terjadi
dalam lokalitas yang merupakan bagian dari unit sejarah bangsa atau lebih tepat
negara.
6.Sejarah dari suatu
“tempat” suatu “locality” yang batasannya ditentukan oleh perjanjian penulis
sejarah.
Ketika
kita berbicara sejarah lokal disini bukan sejarah lokal tradisi, semisal babad,
hikayat, lontara, tambo, ataupun lainnya.Melainkan sejarah yang menceritakan
regionalitas, kedaerahan secara batasan-batasan tertentu. Misalkan melalui
batasan-batasan geografis atau keberadaan suku yang mendiami tempat tersebut
.Atau istilah lainnya ialah sejarah daerah (Moh. Ali 2005:155).
Pada
awal pasca kemerdekaan, kebutuhan akan adanya sejarah nasional sangat tinggi
guna mendukung eksistensi dari negara Indonesia yang baru tertentuk. Namun
kemudian setelah beberapa lama disadari bahwa kecenderungan penulisan sejarah
yang nasional sentries dapat mengabaikan realitas dinamika sosial yang majemuk,
yang ada di masing-masing bagian wilayah republik ini (Sabang-Merauke). Hal ini
tentu saja dapat merugikan bangsa Indonesia sendiri, karena sejarah yang
bersifat nasional kerap mengabaikan makna bagi komunitas tertentu, terutama
yang menyangkut sejarah di lingkungan sekitarnya.Lebih jauh, tidak dikenal atau
diketahuinya bagian-bagiandari sejarah bangsa Indonesia secara lengkap atau
detailsangat dimungkinkan, terburuknya adalah ada bagian-bagian sejarah daerah
yang luput dari perhatian sebab tidak pernah diungkapkan.
Terbatasnya sumber
tertulis merupakan salah satu faktor yang menjadikan sejarah lokal belum
berkembang dengan baik.Sebagian besar sumber yang tersedia adalah sumber lisan
baik itu tradisi lisan (oral tradition)
maupun sejarah lisan (oral history). Memang dalam
menggali sejarah lokal di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari apa yang
namanya sumber lisan. Kebiasaan untuk menuliskan segala sesuatu yang pernah
terjadi di lingkungan sekitarnya belum merupakan suatu keharusan atau kebutuhan
yang perlu dilakukan oleh sebagian dari bangsa ini.Tidak heran sumber tertulis
mengenai masa lalu suatu komunitas masyarakat di tempat/ lokalitas tertentu
sangat-sangat terbatas, bahkan mungkin sumber lisan berupa tradisi lisan adalah
satu-satunya akses untuk mendapatkan informasi tersebut.
Seperti
tertuang dalam Pedoman Penulisan Sejarah Lokal yang disusun Asisten
Deputi Urusan Sejarah Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,
disebutkan bahwa penulisan sejarah lokal dapat menjadi alat untuk memahami
dinamika masyarakat lokal dan keterkaitannya dengan lokalitas lain. Di samping
itu, sejarah lokal bisa digunakan untuk menelusuri asal-usul perkembangan,
gejolak keresahan serta perwujudan budaya lokal serta memahami sumber daya
tahan tradisi lokal. Melalui sejarah lokal dapat dipahami pengetahuan dan
kearifan lokal yang telah tenggelam atau terbawa arus perubahan yang dipaksakan
dari luar.
Ada beberapa hal pentingnya mempelajari
sejarah lokal antara lain:
1.Untuk menilai
kembali generalisasi-generalisasi yang sering terdapat dalam sejarah nasional
(periodisasi, dualisme ekonomi,dll.)
2.Meningkatkan
wawasan/ pengetahuan kesejahteraan dari masing-masing kelompok yang akhirnya
akan memperluas pandangan tentang ”dunia” Indonesia.
3.Membantu sejarawan
profesional membuat analisis-analisis kritis.
4.Menjadi sumber/
bahan/ data sejarah untuk kepentingan no.1 dan para peneliti lainnya.
Tipe-Tipe Sejarah Lokal
A. Sejarah Lokal Tradisional
Yang
dimaksud dengan Sejarah Lokal Tradisional adalah hasil penyusunan Sejarah dari
berbagai kelompok etnik yang tersebar diseluruh Indonesia yang sudah bersifat
tertulis.Tipe ini merupakan tipe sejarah lokal yang paling pertama muncul di
Indonesia. Sifat lokalitasnya mudah dimengerti karena belum berkembangnya
kesadaran akan kesatuan antar etnik, yang meliputi seluruh Indonesia seperti
sesudah kabngkitan nasional pada permulaan abad ke-20.
Kelompok-kelompok
etnik ini biasanya membuat lukisan tentang asal-usul peristiwa-peristiwa yang
telah dialami oleh kelompoknya diwaktu yang lampau. Awalnya berupa Lisan yang
diturunkan secara turun-temurun akan tetapi sesudah adanya tulisan diabadikan
dalam bentuk tulisan, disamping masih ada yang masih dalam bentuk lisan.
Diindonesia mengenai sejarah tradisional tersebut dikenal dengan : babad,
hikayat, tambo, lontara, dsb.
Akhirnya
penting disadari bahwa jenis sejarah Lokal ini, meskipun boleh dikatakan
merupakan sejarah Lokal yang pertama–tama berkembang di Indonesia, namun pada
kenyataanya masih tetap bertahan, bukan saja sebagai wwarisan masa lampau
komunitas, tapi sering juga isinya masih dipercaya sebagai gambaran sejarah
masa lalu jadi bersifat fungsional dalam kehidupan kelompok itu.
B. Sejarah Lokal Diletantis.
Salah
satu karakteristik yang menonjol dalam Sejarah Lokal Diletantis adalah tujuan
penyususnannya pada umumnya terutama untuk memenuhi rasa estetis individual
melalui lukisan peristiwa masa lampau.Jadi apabila Serah lokal tradisional
lebih mementingkan kelompok disini lebih mementingkan Individu atau keinginan
pribadi.Untuk mencapai tujuan kesenangan itu maka beberapa peminat sejarah,
bukan saja ingin membaca gambaran sejarah yang sudah jadi tapi lebih dari itu
tergugah untuk menulis sejarah dirinya sendiri.Biasanya mereka tertarik menulis
sejarah Lingkungannya sendiri dengan memanfaatkan sumber-sumber yang umumnya
sudah dikenalnya dengan baik.
Siapakah
yang biasanya mengembangkan diri sebagai sejarawan diletantis ini ?tentu saja
jawabannya adalah mereka itu termasuk kalangan terdidik (tradisional maupun
modern) dilingkunag masyarakatnya, yang karena itu mempunyai pandangan yang
lebih luas dan bisa membaca sumber-sumber sejarah terutama yang berupa dokumen
dan kemudian mampu melukiskan degan baik lukisan sejarah yang disusunnya.
Biasanya yang dihasilkan adalah naratif kronologis dengan sedikit banyak bumbu
emosional yang mencerminkan kecintaannya akan lingkungannya.
C. Sejarah Lokal Edukatif Inspiratif
Yang
dimaksud dengan Sejarah lokal edukatif Inspiratif adalah jenis sejarah lokal
yang disusun dalam rangka mengembangkan kecintaan Sejarah terutam apda sejarah
Lingkunagnnya, yang kemudian menjadi pangkal bagi timbulnya kesadaran sejarah
dalam artian yang luas (kesadaran lingkungan dalam rangka kesadaran sejaran
nasional).
Menyusun
sejarah Lokal seperti diatas memang tercermin dalam kata Edikatif dan
Inspiratif, yang sering diangap merupakan salah satu aspek penting dalam
mempelajari sejarah.Menyadari guna edukatif dari sejarah berarti menyadari makna
dari sejarah sebagai gambaran peristiwa masa lampau yang penuh arti. Sedangkan
kata inspiratif mengandung makna yang hampir sama dengan pengertian edukatifr
seperti dijelaskan diatas hanya disini yang lebih ditekankan adalah “daya
gugah” yang ditimbulkan oleh usaha mempelajari sejarah itu. Jadi kedua kata itu
menunjukan semangat yang diharapkan bisa dikembangkan dalam sejarah.
Jadi
penulis sejarah lokal ini menyusun sejarah Lingkungannya untuk mencapai
tujuan-tujuan seperti digambarkan diatas. Biasa Lembaga pendidikan atau badan
pemerintah daerah yang menggunakan Tipe ini yang mengnggap tugas ini sebagai
bagian dari upaya pembangunan, khususnya pembangunan mental masyarakat juga
pembanguna fisik karena diyakini apabila mental berhasil yaitu adanya kebangaan
serta harga diri kolektif akan memudahkan bagi pemerintah setempat untuk
memotifasi masyarakat untuk berpartisifasi dalam pembangunan fisik.
Biasanaya
kegiatan ini dilakukan oleh para sejarawam non-profrsional seperti guru-guru,
khususnya guru Sejarah.Tapi tidak jarang sejarawan profesional juga
terlibat.Terutama yang mempunyai putera daerah.
D. Sejarah Lokal Kolonial.
Sejarah
lokal Kolonial merupakan kategori tersendiri dalam tipologi sejarah lokal,
terutama karena memiliki beberapa karakteristik yang dimilikinya.Karakteristik
yang pertama dari Jenis sejarah Lokal ini adalah bahwa sebagian besar dari
penyusunannya adalah pejabat-pejabat pemeerintah kolonial seperti Residen,
asisten Residen, Kontrolir atau pejabat-pejabat pribumi tetapi atas dorngan
dari pejabat Hindia Belanda.
Sebagian
besar tulisan dari sejarah Lokal kolonial adalah tulisan-tulisan dari
pejabat-pejabat kolonial di daerah-daerah. Laporanya bisa berupa memori serah
jabatan, atau laporan khusus kepada pemerintah pusan Batavia tentang suatu
perkembangan khusus di daerah kekuasaan pejabat yang bersangkutan. Mengenai
tulisan-tulisan sejarah lokal Kolonial bisa dikemukakan beberapa sifatnya yang
menarik.Pada umumnya kelihatan ada usaha untuk mengemukakan data yang cermat
meskipun dengansendirinya dak unsur subjektivitas atas dasar adanya kepentingan
kolonial yang mendasari berbagai macam tulisan itu.
D. Sejarah Lokal Kritis Analitis
Salah
satu karakteristik yang paling mudah dilihat dalam sejarah lokal Tipe ini
adalah sifat uraian atau pembahasan masalahnya yang telah menggunakan
pendekatan Metodologis sejarah yang bersifat ketat. Mulai dari pemilihan obyek
studi, langkah-langkah atau proses kerja samapai kepada penulisan laporan.
Yang
mudah dikenal juga ialah bahwa pelaksanaan penelitiannya umumnya ditangan oleh
sejarawan Profesional.Profesionalisme ini bukan saja ditentukan oleh latar
belakang pendidikan formal ke sejaranya.Tetapi juga keterampilan dilapangan
yang dikempangkan terutama pemngalaman penelitian yang memadai.Hal kedua yang penting
ditekankan adalah karena pendidikan formal kesejateraan saja belum cukup
merupakan jaminan bagi pencapaian hasil yang diharapkan.
Ada
empat corak penulisan dalam sejarah lokal kritis analitis yaitu :
1.Studi yang
difokuskan pada satu peristiwa tertentu (studi peristiwa khusus atau apa yang
disebut”evenemental”.
2.Studi yang lebih
menekankan pada struktur
3.Studi yang mengambil
perkembangan aspek tertentu dalam kurun waktu tertentu (studi tematis dari masa
ke masa).
4.Studi sejarah umum,
yang menguraikan perkembangan daerah tertentu (profinsi, kota, kabupaten) dari
masa ke masa.
Anak
bangsa di negeri ini sudah sewajarnya diperkenalkan dengan lingkungan yang
paling dekat yaitu desanya, kemudian kecamatan, dan kabupaten, baru tingkat
nasional, dan internasional. Apabila mereka mencintai sejarah di daerahnya maka
secara otomatis anak didik akan mengetahui tentang kearifan lokal tentang
kebudayaan di daerahnya.
Sejarah
lokal mempunyai arti sangat penting bagi anak didik kita. Dengan mempelajari
sejarah lokal anak didik kita akan memahami perjuangan nenek moyangnya dalam
berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Kamis, 12 Juli 2018
Sejarah Singkat Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih
Konstantinopel atau sekarang disebut
Istanbul atau Asatinah adalah sebuah kota yang terletak di antara dua tepian
teluk Bosporus, kota tersebut merupakan Byzantium
kuno. Kota ini didirikan oleh bangsa Romawi kuno pada abad ke 7 SM. Kaisar Roma
menetapkan sebagai ibukota Imperium Romawi Timur, dan ia menamakan kota
tersebut dengan nama Konstantinopel pada tahun 330. Imperium Romawi sendiri telah
terbagi menjadi dua bagian, yaitu Imperium Romawi Timur dan Imperium Romawi
Barat. (Al-Munyawi edisi ketujuh 2016: 104)
Konstantinopel dibangun di atas kota yang sudah ada sebelumnya, yaitu Byzantium
yang didirikan pada masa ekspansi kolonial Yunani. Ribuan tahun yang lalu oleh
pahlawan legendaris Yunani, yaitu Byzas kota ini dinamai sesuai dengan namanya
yaitu Byzantium. Sejak Kaisar Konsantin memindahkan ibukota Romawi Timur ke
kota tersebut diubah menjadi Konstantinopel yang sering disebut “New Rome”, sebagai tempat aktivitas
dagang terbanyak dengan populasi kurang lebih 500.000 orang. (Felix cetakan ke
11 2017: 13)
Letak Konstantinopel yang terletak di dua tepian teluk Bosporus, kemudian
membentuk sebuah semenanjung sehingga menciptakan bentuk segitiga, sebelah
utara dibatasi oleh Tanduk Emas, di bagian selatan Marmara, dan di barat tembok
Theodosius yang terhampar lebih dari tujuh kilo meter menyeberangi daratan
Trakia. Daerah yang dilindungi tembok Theodosius meliputi tujuh bukit, enam
diantaranya menjulang dari lereng yang sejajar dengan Tanduk Emas dan yang
ketujuh dengan dua puncak disudut barat kota tua. (Freely, 2012: 5)
Menurut
Ali Muhammad Ash Shallabi:
“Kota
Konstantinopel dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus,
Laut Marmara, dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai yang demikian besar,
yang mampu menghalangi masuknya kapal-kapal dari luar. Disamping itu, dari
daratan juga dijaga dengan pagar-pagar sangat kokoh yang terbentang dari Laut
Marmara hingga Tanduk Emas yang diselingi Sungai Likus. Antara dua tembok itu
ada ruang terbuka yang lebarnya mencapai enam puluh meter dan tembok bagian
dalam tingginya mencapai 40 kaki. Di atas pagar itu terdapat menara-menara yang
tingginya 60 kaki. Adapun tembok bagian luar tingginya mecapai 25 kaki dan di
atasnya ada menara-menara yang tersebar di sepanjang tembok itu yang dipenuhi
dengan para tentara.” (Ash-Shallabi 2017: 194)
Konstantinopel dilindungi tembok yang mengelilingi kota dengan sempurna,
baik wilayah laut maupun daratnya, keseluruhan kota ini nampak seperti sebuah
benteng kokoh. Nyali seorang yang ingin menaklukan kota ini pun akan sempit
tatkala dia melihat bagian benteng bagian barat, satu satunya wilayah
Konstantinopel yang berbatasan dengan daratan. Disitu terdapat bangunan
terstruktur tembok dua lapis dengan tiga tingkatan, yang diperkuat dengan parit
besar dan dalam dibagian depannya. Lengkaplah Konstantinopel memiliki gelar
yang lain “ The City With Perfect
Defense”. ( Felix cetakan ke 11 2017: hal 3).
Upaya untuk menaklukan Konstantinopel
dimulai sejak pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan pada serangan Islam yang
pertama tahun 664, namun belum berhasil. Pada awalnya serangan-serangan tersebut
terjadi berulang kali dan selalu gagal. Pada masa Dinasti Uwamiyah juga sudah
dilakukan berbagai usaha untuk menaklukan Konstantinopel. Serangan yang
dilakukan oleh Bani Umayyah, yaitu pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul
Malik pada tahun 717 bukan merupakan serangan terbesar. Usaha selanjutnya untuk
menaklukan Konstantinopel dilakukan pada awal-awal pemerintahan Khilafah
Abbasiyah yang berlangsung sangat intensif melawan Kekaisaran Byzantium. Tetapi
serangan belum dapat sampai ke kota Konstantinopel dan tidak begitu membahayakan,
walaupun serangannya mudah dapat menimbulkan gejolak di dalam negeri Kekaisaran
Byzantium. Serangan yang gencar dilancarkan pada masa Khilafah Harun Ar-Rasyid
pada tahun 806, Sultan khilafah Ustmaniyah Sultan Orhan Bin Ustman pada tahnun
1327, Sultan Beyazid I tahun 1393 sampai Sultan Murad II menggunakan strategi mengepung
kota Konstantinopel untuk menaklukan kota tersebut. Namun demikian
Konstantinopel masih belum dapat ditembus oleh berbagai agresi militer. (
Ash-Shallabi, 2017: 184)
Sultan Mehmet II yang akhirnya
dapat menaklukan Konstantinopel ditakdirkan untuk menjadi sebaik-baik panglima
penakluk Konstantinopel, lahir sepuluh tahun kemudian setelah Sultan Murad ayah
dari Sultan Mehmet sendiri melakukan pengepungan. Sultan Murad pada malam hari menunggu
berita kelahiran anaknya, dia memulai membaca Al Quran dan baru saja
menyelesaikan Surat Al-Fath ayat-ayat yang menjanjikan kemenangan, seorang
petugas membawa berita kelahiran anaknya, kemudian diberi nama Mehmet sebuah
kata yang merupakan Turkinisasi kata Muhammad. (Crowley, 2015: 46)
Tahun 1440 merupakan kondisi yang menandai periode krisis
baru bagi Ustmani. Kekaisaran mendapat ancaman di Anatolia dengan adanya pemberontakan
yang dilakukan oleh salah seorang tuan tanah Turki, bey daerah Karaman.
Disamping itu sementara waktu pasukan lain dari Hungaria mulai bersiap siap di
daerah barat. Sultan Murad terpaksa mengatasi berbagai ancaman dengan gencatan senjata selama sepuluh
tahun dan mengarahkan perhatian ke Anatolia untuk memberantas pemberontakan
bey. Sebelum dia berangkat berjuang sudah dikejutkan oleh usaha kudeta
singgasana. Dia sangat cemas akan ada perang saudara dalam negeri dan
memastikan agar Mehmet dapat memegang kekuasaan sebelum dia meninggal. (Crowley,
2015: 49)
Pada masa pemerintahan sultan Mehmet II
dari Dinasti Ustmaniyah, tembok
Konstantinopel sangat kuat dan dilengkapi dengan armada angkatan lautnya yang
tangguh sehingga hal ini masih menjadi kendala terbesar bagi siapa saja yang mencoba
menaklukannya. Sultan Mehmet II khawatir bahwa Konstantinopel akan kembali
menjadi pemicu persengketaan, perang saudara dan lainya yang tidak diinginkan
oleh kekaisaran Ustmani. Berdasarkan pemikiran tersebut maka penaklukan
Konstantinopel dirasa perlu untuk dilakukan. Penaklukan kata kunci kekaisaran: “Mehmet
mencemaskan kemungkinan keadaan saat itu menjadi pemicu peperangan yang tiada
akhir dengan kekuasaan kristen dimasa yang akan datang”. (Crowley, 2015: 94)
Felix
Y Siauw berpendapat :
“Konstantinopel
sendiri bukanlah kota yang lemah. Posisinya sebagai ibukota Byzantium, pewaris
satu-satunya imperium Romawi menjadikannya memiliki semua teknologi perang dan
kejayaan sistem militer Romawi yang sempat memimpin dunia. wilayah lautnya
sangat luas dan armada lautnya menjadi yang terbaik pada masanya. Tembok
Konstantinopel mempunyai prestasi selama 1.123 tahun menahan 23 serangan yang
dialamatkan kepadanya. Hanya sekali saja tembok bagian lautnya pernah ditembus
oleh pasukan salib 1204, selain itu semua serangan sukses dinetralkan pasukan
pertahananya”. (Felix cetakan 11 2017:
6)
Pada hari Selasa tanggal 29 Mei 1453 tepatnya
dimulai penyerangan umum atas kota Konstantinopel setelah ada perintah kepada seluruh
mujahidin yang telah menggemakan suara mereka dengan bertakbir. Mereka bertolak
menyerang ke arah pagar-pagar benteng Konstantinopel yang dipimpin langsung
oleh Sultan Mehmet II hingga berhasil
menembus dan menguasai beberapa menara. Disamping itu mereka juga berhasil
menumpas sejumlah pasukan Byzantium di pintu Aderna. Ketika Kaisar Konstantin
melihat panji-panji Ustmani berkibar di atas menara–menara bagian selatan kota Konstantinopel,
ia yakin bahwa sudah tidak ada gunanya lagi bertahan. Ia melepaskan pakaiannya
agar tidak dikenali, kemudian ia turun dari kudanya untuk bertempur dan
akhirnya ia terbunuh di medan perang. Tersebarnya berita kematian Kaisar sangat
berpengaruh besar terhadap semangat para mujahidin Ustmani. Namun sebaliknya
semangat dari pasukan Kaisar Konstantin semakin melemah. Pasukan Ustmani
berhasil memasuki kota dari berbagai titik, akhirnya pasukan pelindung kaisar melarikan
diri setelah pemimpin mereka tidak ada lagi. Perjuangan bangsa Turki telah
berhasil menguasai kota Konstantinopel. (Al-Munyawi, 2016: 147-151)
Kota Romawi akhirnya ditaklukan oleh Sultan Mehmet II setelah melewati proses
pengepungan selama hampir dua bulan. Jatuhnya Kota Konstantinopel tidak lepas
dari kepiawaian sang Sultan Mehmet II dalam strategi perangnya dan usaha-usaha
yang dilakukannya selama penaklukan Konstantinopel. (Al-Munyawi, 2016: 155)
Langganan:
Komentar (Atom)